Praktik judi Toto Gelap (Togel) dengan bendera “Aseng Kayu” kian merajalela di wilayah hukum Polda Sumatera Utara. Meski terang-terangan beroperasi, bisnis haram ini seolah tak tersentuh hukum, diduga kuat karena adanya “benteng” dari oknum aparat.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, kelancaran bisnis ini disinyalir melibatkan oknum polisi berinisial BD. Ia disebut menjabat sebagai Kepala Tim (Katim) Jatanras di salah satu Polres jajaran Polda Sumut.
“Sudah bukan rahasia umum. Bahkan oknum BD itu berada dalam pusaran judi Aseng Kayu,” ungkap seorang sumber yang identitasnya dirahasiakan, Rabu (28/01/2026).

Kupon Berserakan di Kedai Kopi
Hasil investigasi di lapangan menunjukkan pemandangan mencengangkan. Di sejumlah kedai kopi sepanjang Jalan Besar Pasar Bengkel, Sei Rampah, Sergai, kupon togel tampak berserakan di atas meja. Tak ada rasa takut, para juru tulis (jurtul) justru melengkapi meja mereka dengan buku tafsir mimpi.
Di wilayah Sergai, nama Erik Siahaan mencuat sebagai koordinator lapangan. Ia disebut mengatur jaringan jurtul yang sangat masif. Bahkan, di satu dusun saja, terdapat sedikitnya tujuh orang penulis togel.
Omzet Jutaan dan Upah Menggiurkan
Seorang juru tulis, sebut saja Budi, mengaku berani beroperasi karena mendapat jaminan keamanan dari sang bandar. Ia menjalankan tiga putaran judi setiap hari, Hongkong, Sydney, dan Singapore.
“Kami berani karena kata tokeh aman, tidak ditangkap polisi. Upahnya 20 persen dari penjualan. Satu jurtul bisa setor satu juta rupiah per putaran,” beber Budi.
Modus Intimidasi dan Pengawas Loreng
Gurita bisnis Aseng Kayu tidak hanya mengandalkan uang, tapi juga intimidasi. Para penulis lama yang sebelumnya bergabung dengan bandar lain dipaksa pindah ke bendera Aseng Kayu. Jika menolak, mereka diancam akan ditangkap oleh petugas.
Selain oknum Polisi, muncul pula nama oknum berinisial H yang diduga bertugas sebagai pengawas di lapangan. Struktur yang rapi dan terorganisir inilah yang membuat judi togel Aseng Kayu kini menjangkiti wilayah Tebing Tinggi, Deli Serdang, hingga Pematang Siantar.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat masih menanti ketegasan Kapolda Sumut untuk memberantas praktik perjudian yang kian meresahkan, bahkan di saat bulan suci sekalipun. (As) Bersambung

