Kini publik menanti, apakah polisi mampu meruntuhkan dominasi jaringan Tanta Ginting dan Bolon atau justru daftar “kegagalan” ini akan terus bertambah panjang
KARO – Gurita bisnis gelap narkotika yang dikendalikan duet Tabah Simbolon dan Tanta Ginting kian mengkhawatirkan di Tanah Karo. Meski skema transaksinya mulai terendus publik, kepolisian hingga kini seolah masih kesulitan menyentuh jaringan kelas kakap tersebut.
Informasi mengenai aktivitas kartel ini sebenarnya telah masuk ke meja kepolisian sejak sembilan hari lalu. Namun, di lapangan, gerombolan ini justru semakin berani dengan membangun “barak-barak kecil” sebagai pusat kendali peredaran.

Sistem Loket dan Jaringan Desa
Sistem loket transaksi pun diciptakan oleh mereka, seperti di Desa Martelu Kecamatan Laubaleng dan di Desa Mardinding dengan pengedar berinisial Pari.
Masih di Kecamatan Laubaleng tepatnya di Desa Buluh Pancur dengan inisial “ST” alias Siman Tarigan. Perlu diketahui nama Siman Tarigan ini pernah jadi target operasi Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut, namun karena kelincahan dan kelicikannya pihak kepolisian belum berhasil meringkusnya, apakah Polis kalah dengan Penjahat?
Selain itu terdapat juga di Desa Lau Pakam Kecamatan Mardingding dengan pemandu berinisial “PT” alias Perdana.
Jaringan Tanta Ginting diketahui menerapkan sistem loket untuk mempermudah transaksi. Sejumlah titik di pedesaan disinyalir menjadi zona merah peredaran narkoba.
Lambatnya penindakan ini memicu spekulasi liar di tengah masyarakat. Muncul dugaan adanya oknum yang menjadi “tameng” bagi para bandar, sehingga intelijen kepolisian terkesan jalan di tempat.
Respons Polres Tanah Karo
Kapolres Tanah Karo, AKBP Pebriandi Haloho, melalui Kasat Res Narkoba AKP J.H. Pardede, membantah pihaknya tinggal diam. Ia mengaku telah melakukan pengecekan ke lokasi yang dilaporkan warga.
“Dari beberapa lokasi yang diinfokan, sudah kita cek ke lapangan namun tidak ditemukan aktivitas peredaran narkotika. Untuk giat pengecekannya nanti kita rilis,” ujar AKP J.H. Pardede melalui pesan WhatsApp, Selasa (10/02/2026) pagi.
Meski hasil pemantauan awal diklaim nihil, Pardede menegaskan akan terus mengerahkan personel untuk mendalami informasi tersebut.
“Ok bang. Kita kerahkan anggota kita ke sana,” pungkasnya singkat. (As)
(Bersambung…)

